Sabtu, 18 April 2020

Surga Kecil Bernama Wediombo

Wediombo
Beberapa minggu yang lalu, gue dihadapkan dengan minggu yang cukup hectic, setelah sebelumnya dipenuhi oleh berbagai masakan hari raya macam opor ayam dan tetek-bengeknya yang tentu saja membuat berat badan gue naik 5kg! Ya, minggu itu gue balik ke Jogja selama dua minggu hanya untuk mengikuti Ujian Akhir Semester. Nanggung memang, karena dua minggu doang tapi ya it's okay lah daripada gue bengong di rumah ga ada kerjaan, kalo ke jogja kan gue bisa dapet uang saku yeay!. Nah karena jadwal UAS 2 minggu gue bolong di tengah-tengah yakni hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. Akhirnya gue memutuskan berlibur lebih awal bersama teman per-sadboi-an, Ardian, menuju pantai Wediombo yang letaknya kurang lebih 80km dari pusat kota Jogja.

Di hari Jumat setelah Jumatan, gue berangkat ke pantai itu naik motor dengan sekali berhenti di Wonosari untuk ngopi. Maklum, perjalanan cukup membuat pantat berasa lebih rata dari sebelumnya. Waktu tempuh untuk mencapai pantai Wediombo sekitar dua jam perjalanan dengan kecepatan lumayan ngebut karena kita gak mau kehilangan momen sunset disana. Kita sampai sekitar jam setengah lima sore dan langsung check-in di satu-satunya penginapan pantai Wediombo dengan mahar seperangkat alat salat dibayar tunai. Eh maaf, maksud gue dengan duit sebanyak 250.000 rupiah. Kamar yang kami dapat cukup bersih ditambah kamar mandi dalam, kipas angin dan televisi, namun satu hal yang menurut kami kurang adalah harganya yang cukup mahal untuk mahasiswa akhir bulan kota Jogja hahaha.
Senja Wediombo
Setelah menaruh barang dan lain sebagainya, kami berdua lanjut menyusuri pantai di sore itu. Pantai Wediombo sama seperti pantai-pantai yang lain dimana pada sore hari sudah mulai surut dan karang-karang mulai terlihat di pesisir pantai. Sebenarnya di pantai ini terdapat spot untuk berkemah, namun karena kami berdua bukan anak Pecinta Alam semasa sekolah dahulu dan kebetulan kami berdua belum pernah naik gunung, membuat kami sangat amatiran dalam membangun tenda. Maka dari itu kami memilih untuk menginap di penginapan karena tentu saja gue lebih suka tidur diatas kasur daripada pasir pantai. Selama satu setengah jam kami menyusuri pantai dan entah mengapa kita malah sampai di bukit Gama yang letaknya di sebelah timur pantai. Kami akhirnya menikmati sunset waktu itu di bukit Gama dengan pemandangan yang aduhai membuat kedua mata kami rasanya ingin lepas saking indahnya. Setelah puas menikmati momen matahari terbenam bersama kesayangan teman, kami memutuskan untuk kembali ke penginapan berhubung kami berdua takut diculik Nyi Roro Kidul gelap. Maklum kami bukan anak malam hehe.
Senja di Bukit Gama
Malam hari di pantai menurut kami sangat-sangat membosankan, ya karena di pantai Wediombo belum ada jaringan telepon yang masuk. Alhasil kami berdua benar-benar seolah lepas dari ketergantungan dengan ponsel kami. Karena hal tersebut, kami memutuskan untuk nongki-nongki manja di aula penginapan ditemani bapak penjaga yang sepertinya sudah bertahun-tahun menjaga penginapan ini. Dia bercerita dari timur ke barat, selatan ke utara pengalaman-pengalaman yang ia dapati selama ia menjadi penjaga penginapan. Dari seorang wanita yang sendirian ke pantai sampai sepasang pemuda pemudi yang check-in waktu jam 3 pagi dan ternyata uangnya kurang guys ya ampun. Yah begitulah ujarnya, senang susah dia lewati sendirian ketika menjaga penginapan ini. Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 10, kami berdua bergegas kembali ke kamar untuk beristirahat dalam damai.
Laguna, baby
Di pagi hari setelah kami terbangun, kami bergegas untuk jalan-jalan di pesisir pantai dengan tujuan menikmati sunrise di laguna Wediombo. Oiya, lagunanya sendiri udah agak rusak guys gara-gara beberapa bulan yang lalu kena badai gitu, tapi bagusnya ga ilang kok! Jujur, menikmati matahari terbit di laguna merupakan salah satu pengalaman yang cukup syahdu dimana kami bisa menikmati sunrise hanya berdua saja karena belum ada pengunjung yang lain. Setelah puas menikmati sunrise, kami berdua berjalan-jalan naik dan turun bukit dan kami sampai di pantai Jungwok sekitar 15 menit perjalanan jalan kaki. Cukup melelahkan memang, namun hal itu terbalas dengan keindahan pantai Jungwok yang paripurna. Setelah cukup, kami akhirnya kembali ke penginapan untuk sarapan dan bersiap menjajal berselancar untuk pertama kalinya di Wediombo.


Gue dan Swallow ijo di Jungwok

Ombak yang ada di Wediombo dapat dikatakan cukup besar sehingga banyak orang yang berselancar disana. Gue sendiri perlu membayar 150ribu untuk menjajal ombak Wediombo. 150 ribu tersebut kita sudah mendapat satu papan surfing dan disertai pemandu yang akan mengajari cara berselancar terlebih dahulu. Dengan waktu satu jam, kita bisa puas mencoba olahraga surfing ini, bagaimana kita dituntut untuk menjaga keseimbangan rohani badan selama diatas ombak. Sungguh pengalaman yang sangat seru untuk softboi seperti gue. Sekedar info, selain surfing, kalian bisa snorkling juga loh! Setelah dirasa cukup, akhirnya kami berdua kembali ke penginapan untuk berkemas dan kembali ke kehidupan yang sebenarnya (re: UAS). Terima kasih,Wediombo!
Surfing!





















Read More

Jumat, 24 Mei 2019

Senja di Bukit Paralayang

Sunset

Pantai Parangtritis (Paris) merupakan salah satu objek wisata Jogja yang sudah terkenal. Di Paris, para pengunjung dapat menikmati deburan ombak dan memanjakan mata apalagi ketika waktu matahari terbenam tiba. Menghabiskan waktu bersama teman, pasangan, maupun selingkuhan keluarga di Paris sudah menjadi hal yang mungkin bisa dikatakan semua orang Jogja sudah pernah melakukannya. Namun, apakah kalian sudah pernah menikmati Paris dari ketinggian? Jika belum, perkenalkan objek wisata yang tepat berada di atas Paris yakni Bukit Paralayang, Watugupit.

Tempat wisata ini boleh dibilang relatif lebih sepi dibanding Paris sendiri, akan tetapi jangan pernah menyepelekan pemandangan yang ditawarkan dari bukit ini. Melihat ombak bergulung dan orang-orang bermain air di pantai merupakan suatu kenikmatan tersendiri, apalagi ketika waktu sunset tiba. Warna oranye kebiruan yang dipadu dengan ombak-ombak yang mulai pasang membuat tempat ini sangat spesial. Lebih spesial lagi apabila kita memandang pemandangan tersebut dengan sepiring mendoan hangat dan kopi yang dijual di kawasan tersebut. Harga makanan dan minuman disini dapat dibilang cukup terjangkau apalagi untuk mahasiswa yang jadi langganan utang di burjo langganan. Fasilitas di tempat ini juga cukup memadai dengan adanya toilet yang bersih, mushola yang tidak terlalu sempit, dan parkiran yang luas.

Harga terjangkau
Untuk mencapai Bukit Paralayang ini, kalian dikenakan biaya retribusi sebesar 5 ribu rupiah dan untuk parkirnya sendiri dikenakan biaya 3 ribu rupiah untuk motor, sedangkan untuk mobil dikenakan biaya 10 ribu rupiah. Bagi kalian yang membawa motor, kalian harus memastikan bisa melewati jalan yang cukup curam dimana kebanyakan wisatawan (yang umumnya perempuan) tampak kesulitan waktu naik ke atas dan tampak ketakutan ketika turun ke bawah. Boleh dikatakan, sudah cukup banyak wisatawan yang terjatuh saat mencoba mencapai Bukit Paralayang maupun meninggalkannya. Harap diingat, jatuh di aspal tidak seindah jatuh cinta. Jadi, harap berhati-hati ya!

Nah tunggu apalagi, yuk kunjungi dan saksikan sendiri sunset di Bukit Paralayang dimana kalian akan merasakan pengalaman yang berbeda dalam menikmati momen matahari tenggelam! Oiya, jangan lupa untuk tetap menjaga kebersihan disana ya, karena kebersihan itu ditentukan petugasnya sebagian dari iman! 

Read More

Senin, 20 Mei 2019

Selayang Pandang


Beberapa hari terakhir, suasana hatiku sedang tidak karuan. Semua hal yang kutakutkan tiba-tiba datang secara serentak. Dalam kondisi yang tidak siap, aku diharuskan menerima kenyataan. Dia tidak akan kembali lagi padaku, begitu katanya. Sakit hati? Tentu. Siapa yang tak sakit hati mendengarnya apalagi dari orang yang sudah bersamamu selama ini. Memori-memori yang sudah dibuat perlahan muncul kembali ke permukaan. Baik memori baik maupun buruk selalu terlintas dan merasuk ke dalam pikiran. Apalagi ditambah fakta bahwa otak diciptakan untuk mengingat, bukan untuk melupakan membuatku harus memilih langkah selanjutnya. Pilihanku hanya dua, bertahan atau mulai beranjak pergi. Dari kedua pilihan tersebut, aku memilih pilihan terakhir, pergi.

"Semua orang akan bangkit, tentu saja. Hanya masalah menentukan pilihan untuk sembuh secara cepat, atau perlahan-lahan."

Yang harus kuingat saat ini adalah manusia diciptakan dengan sepasang kaki untuk bergerak. Aku sadar untuk melupakannya aku harus terus bergerak dan terus bergerak. Langkah kaki ini lah yang akan membawaku ke tempat-tempat baru dan melupakan semuanya tentang dia. Dan kelak, ketika aku sudah melupakannya, aku akan melihat tulisan-tulisan yang tertulis di blog ini sebagai sebuah pengingat; aku cukup kuat untuk melupakan. Tepat setelah tulisan ini terbit, aku akan melakukan perjalanan menelusuri tempat-tempat baru dan tentunya dengan suasana yang baru pula. Semoga.


Read More