Beberapa hari terakhir, suasana hatiku sedang tidak karuan. Semua hal yang kutakutkan tiba-tiba datang secara serentak. Dalam kondisi yang tidak siap, aku diharuskan menerima kenyataan. Dia tidak akan kembali lagi padaku, begitu katanya. Sakit hati? Tentu. Siapa yang tak sakit hati mendengarnya apalagi dari orang yang sudah bersamamu selama ini. Memori-memori yang sudah dibuat perlahan muncul kembali ke permukaan. Baik memori baik maupun buruk selalu terlintas dan merasuk ke dalam pikiran. Apalagi ditambah fakta bahwa otak diciptakan untuk mengingat, bukan untuk melupakan membuatku harus memilih langkah selanjutnya. Pilihanku hanya dua, bertahan atau mulai beranjak pergi. Dari kedua pilihan tersebut, aku memilih pilihan terakhir, pergi.
"Semua orang akan bangkit, tentu saja. Hanya masalah menentukan pilihan untuk sembuh secara cepat, atau perlahan-lahan."
Yang harus kuingat saat ini adalah manusia diciptakan dengan sepasang kaki untuk bergerak. Aku sadar untuk melupakannya aku harus terus bergerak dan terus bergerak. Langkah kaki ini lah yang akan membawaku ke tempat-tempat baru dan melupakan semuanya tentang dia. Dan kelak, ketika aku sudah melupakannya, aku akan melihat tulisan-tulisan yang tertulis di blog ini sebagai sebuah pengingat; aku cukup kuat untuk melupakan. Tepat setelah tulisan ini terbit, aku akan melakukan perjalanan menelusuri tempat-tempat baru dan tentunya dengan suasana yang baru pula. Semoga.

Semangat adhiffa
BalasHapusashiap
Hapus